Mari Menari

menari

“Hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang kepada tubuh.
Tubuhku menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman. Dan kelak ajal. Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang Sublim. Libidinal. Labirin.” (Ayu Utami, Saman)

“Aku ingin seperti daun itu/menarikan tarian yang paling indah atau menyanyikan sebuah lagu paling merdu/Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup.” (Subagio Sastrowardoyo)

“Mari menari ! Mari beria ! Mari berlupa !” (Chairil Anwar)

Sumber:

*kutipan diambil fb-nya kang Sahal, sedang foto dari Tempo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s