Cinta dan Tiga Kota (bag. III)

Sudah lewat pukul enam pagi, tapi udara Kota Semarang belum kuhirup. Kereta telat. Beberapa orang bergantian ke toilet. Sebagian masih ada yang tertidu dii kursi dan di kolongnya. Ibu-ibu di depanku sudah bangun sejak embun masih memantulkan merah mentari. Kami membiarkan waktu berlalu dengan banyak diam. Hanya sekali-kali bertanya atau membuat obrolan pendek. Salah satu ibu yang sedang memperbaiki make up-nya tampak ngegerundel soal kereta yang molor jadwal tibanya.

bisanya jam segini udah mau nyampe stasiun. Lah ini Semarang saja belum masuk! Emboh kie!!

Iya. Ini keretanya telat banget. Berhentinya kelamaan sih di kota anu…. !” sambung ibu satunya.

Sementara si Mas gaul hanya diam melihat ke luar jendela.

Pecel, buk.. mas, pecele mas. Masih anget loh.” Sela ibu-ibu menjajakan dagangannya.

Aku merasa perutku tergoda mendengar kata pecel. Tapi kutahan dan kubujuk untuk menunda sarapan sampai tiba di tujuan. Kupikir, sekalian nanti sarapan sama ‘mantan’. Hemmm…. mantan lagi, mantan lagi!

Aku kembali mengirim pesan singkat pada si ‘Mantan’. Semalam aku sudah sempat SMS menanyakan bisa tidaknya bertemu. Aku menawarkan dia untuk datang ke stasiun atau aku yang menemuinya dekat kantornya. Kebetulan, tempat kerjanya juga tidak terlalu jauh dari stasiun.

Bisa. Jam berapa sampai, Bang??” balasnya semalam.

What !! Aku masih saja kurang bisa menerima kata ‘Bang’. Memang dulu pertama kali kenal, dia memanggilku ‘abang’, untuk kemudian berganti ‘Mas’, lalu ‘Sayang’ dan sekarang kembali lagi menjadi ‘Abang’. Evolusi kata panggilan yang buruk, menurutku!

Hanya saja kali ini SMS-ku sepertinya masih berada di dalam kotak pesan. Sampai memasuki Semarang, aku belum juga mendapatkan jawabannya. Uggggghhhhhh…. dia pintar sekali mempermainkan hati ini. kalau tidak bisa ya bilang tidak bisa! Aku kesal sendiri.

Wherever you go, whatever you do

I will be right here waiting for you

Kuputar kembali satu lagu lama. Kali ini tanpa headset tersambung jadi bisa didengar orang banyak. Salah satu ibu ikut menyanyikan pelan. Satu lagu yang dibawakan oleh Richard Marx di akhir akhir tahun 80’an itu rupanya dihafal olehnya.

wah, ibu keren! Hafal juga nih lagu !

iya dong! Dia kan juga pernah muda!” ibu yang lain menimpali kekagumanku.

dari pertama ngobrol, aku kira mereka Cuma tau urusan domestik keluarga. Ternyata ngerti juga bahasa inggris. Gak nyangka! Keren-kerennn !!” batinku kagum. Sekedar mengingatkan kembali akan satu pelajaran: “dont judge a book by cover!”

Jika para ibu ini mungkin merasa sudah tidak punya urusan dengan masa lalu dan sangat menikmati lagu lawas ini, maka berbeda denganku yang sebenarnya sedang merasa sesak jiwa. Lagu ini sungguh mewakili lara hati ini, mengekspresikan campur aduknya perasaan yang tak terungkapkan bibir. Menggambarkan apa yang sedang terjadi padaku saat ini.

Dulu, Aku sempat mendengarnya dalam versi instrumental. Tidak tahu itu suatu kebetulan atau bukan, tapi kudengar lagu ini saat pertama kali bertemu dengan kekasihku yang kini jadi mantan. O my God! Lagu yang sebenarnya sangat menyedihkan, tapi terdengar romantis sekali waktu itu. suasana orang yang sedang jatuh cinta memang kontras sekali dengan suasana patah hati. Apapun jadi indah saat falling in love dan menyiksa saat broken heart. Aku jadi ingin tahu, bagaimana Richard Marx bisa menciptakan lagu setragis ini?!!

Sekitar empat puluh menit, akhirnya kami sampai di tujuan, Stasiun Tawang, Semarang.  Karena belum juga ada balasan dari mantan kekasih, akhirnya aku mencoba menelponnya.

Nada suaranya tersambung, tapi tidak ada yang menerima.

O Ghost! Inikah takdirku?? Dear, tidak bisakah kita bertemu tuk terakhir kali sebelum kamu benar-benar pergi??

Sepagi itu, aku sudah merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku ingin menangis oleh kelemahan hati ini. hatiku benar-benar kembali terluka. Aku duduk sejenak di depan pintu keluar stasiun. Lesu, kecewa, menyesal, sakit hati, putus harapan, rindu dendam. Sepupuku hanya berdiri memperhatikan sekeliling tanpa tahu yang perasaan yang kupendam.

Di sisi lain, kereta jurusan Semarang-Surabaya sudah siap-siap berangkat. Keadaan tidak jelas, kuputuskan saja untuk langsung pulang ke Lamongan. Buru-buru aku memesan tiket sambil menahan kecewa. Sekali lagi kukirim pesan singkat. Aku batalkan rencana bertemu. Saat kereta berangkat, aku baru menerima sebuah SMS.

Maaf, aku telat bangun. Aku kesana ya,” Katanya.

Gak usah. Maaf, Aku langsung pulang saja. Keretaku juga sudah berangkat.”  Kata-kataku terlihat kecewa.

Mungkinkah masih ada waktu

Yang tersisa untukku

Mungkinkah masih ada cinta di hatimu

Andaikan saja aku tahu

Kau tak hadirkan cintamu

Inginku melepasmu dengan pelukan…..

Sementara lagu Tentang Cinta-nya Ipang kembali kuputar, ucapan happy birhtday to you hanya terbisik di hati.  Hadiah ulang tahun itu masih kusimpan dan tak pernah kukeluarkan sampai sekarang.

Dalam perjalanan pulang, kupandangi hamparan bumi gersang menanti datang hujan. Dari balik kusam jendela kereta, kunikmati saja luka hati yang mendadak menganga kembali. Aku berharap semoga semuanya cepat berlalu. I wish my self, her, and all always in happiness. Selamat tinggal Semarang. Lamongan, aku datang !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s