Cinta dan Tiga Kota (Bag. II)

Ah, Semarang! Kota penuh kenangan meski baru sekali aku kesana. Sebelumnya sempat ingin kubatalkan pulang jika harus transit di kota berawalan S ini. Tapi aku tidak punya waktu lagi untuk mengundur kepulanganku. Jadwal kerja sudah terlanjur kuatur sedemikian rupa. Salah satu kerabat yang sebaya denganku akan menikah. Aku juga sangat kangen rumah; ibu, bapak, adik-adikku. Rinduku sudah tumpah ruah.

Semaraaaaang, selamat pagi Sayang!” pesan singkat yang dulu sering kukirim kepada seseorang di sana saat sinar matahari mulai merambah bagian bumi ini.

Ahaaaa ! itu dia alasannya!! Kamu mengerti kan?! CINTA !

Mungkin kamu bisa memahami, sebuah tempat bisa menjadi rumah kedua meski kamu jarang kesana, atau malah mungkin tak pernah kesana sama sekali. Hanya karena seseorang yang kamu cintai berada di sana, seringkali secara otomatis tempat itu juga mempunyai arti penting di hatimu. Kadang saat berdoa untuk kekasihmu, kamu pastinya juga menyelipkan doa untuk kota yang menjadi tempat tinggalnya itu. Setidaknya kamu pasti berharap kota itu selalu aman dan nyaman untuk ditinggali sang kekasih.

Aku masih ingat sebuah percakapan melankonis dalam sebuah novel:

saat sesorang tidak lagi menyukai tempat untuk ditinggali, Cuma satu alasan yang membuatnya mau bertahan.”

Apa itu?

Kekasih yang kita cintai”.

Benar, kan?! Aku berani bertaruh bahwa kamu akan menyetujuinya! Bagiku, Semarang menjadi kota yang sangat indah karena seseorang paling indah di hati ini berada di sana. Ya sekali lagi meski aku Cuma sekali ke sana.

Tapi itu dulu. Sekarang, Semarang seolah masih menjadi kota yang mengerikan bagiku. Aku sempat hancur saat kekasihku berada di tempat ini.  Dan semua kepiluan ini menghantui diriku yang sekarang sedang berada di dalam kereta menuju kesana. Semarang, kota kenangan yang menyedihkan!

****

Sebentar-sebentar aku palingkan arah ke luar sana. Lewat jendela kereta yang sedikit buram, aku mengintip gelap malam. Pemandangan didominasi oleh gelap. Hanya sesekali terang saat melewati dalam kota atau perkampungan. Di atas sana, rembulan yang terlihat berbentuk sabit saat sore tadi sudah menghilang. Tertinggal hamparan langit kemarau yang penuh bintang.

Jo, aman kan?? Itu snack di tas makan aja. Kalau pengen kopi atau apa, beli sendiri ya!” aku kirim pesan singkat ke sesupuku sambil memastikan segala sesuatu di gerbong sebelah sana baik-baik saja.

Ribuan balok kayu yang menjadi bantalan rel sudah dilahap oleh si ‘sepur’. Beberapa kota sudah dilewati. Banyak penumpang yang sudah terlelap di tempat duduknya masing-masing. Meski posisinya kurang nyaman untuk tidur, tiga orang ibu tadi juga sudah tertidur. Dua berada di kursi masing-masing sambil selonjor menaikkan kakinya ke atas kursi yang lain, satu lagi pindah tidur di kolong beralas koran. Si pemuda menutupi mukanya dengan slayer sembari sebuah headset menancap di telinganya. Di sisi yang lain, sebagian penumpang masih bercakap-cakap, sambil menikmati kopi atau minuman hangat lain yang sempat dijajakan pengasong di dalam kereta. Segelas kopi mocca yang tadi kubeli kini sudah tinggal setengahnya.

Aku juga membawa rokok tapi hanya kutaruh di saku jaket tanpa kusentuh. Aku memang bukan pecandu rokok. Bisa dibilang sekedar ‘iseng’ karena seringkali aku membeli rokok sebungkus dan hanya satu atau dua batang yang kuhisap. Sisanya, kalau tidak dihabiskan teman ya menunggu jamuran di dalam bungkusnya!

Kembali lagi ke Semarang, kembali lagi ke cinta. Suasana membuat hati galau. Tersenyum kecut di hadapan takdir.

Di kota ini ada seorang gadis yang sangat aku cintai. Aku merasakan dia adalah takdirku. Suara lembut, wajah yang teduh, sikap seorang gadis modern yang manja, dewi langit yang agung, dan ibu anak-anak yang bijak. Aku berharap dia tidak hanya menjadi bagian yang pernah mengisi takdir hidupku, tapi juga takdir terakhirku.

Apa itu takdir? Aku sendiri belum mengerti. Guru, dosen, buku-buku sepertinya enak sekali merumuskan konsep takdir bahkan aku sempat menghapal definisinya. Hahahaha…. sekarang aku rasa itu lucu sekali. Takdir bukanlah seperti yang kuhapal itu. takdir bukan seperti dalam teori-teori. Seringkali kutanya apa yang terjadi dalam hidup ini apakah itu yang disebut takdir. Jadi  apa itu takdir? Aku tidak bisa menjawabnya muluk-muluk. Sederhana saja, “takdir itu cuma sebuah rasa, persepsi. apa yang aku rasa itulah takdirku”.

Makan, tidur, berjalan, senang, sedih, sakit, jatuh cinta, kecewa…. hidup, mati, ya itulah takdir. Semuanya adalah takdir. Entah baik atau buruk, entah yang bisa diusahakan manusia atau tidak.

Aku jatuh cinta pada seseorang untuk kemudian kecewa, itu juga bagian takdirku. Dalam kereta ini, takdirku adalah sedang menuju ke Semarang dengan semua rasa galau. Seandainya saja peristiwa menyakitkan itu tidak terjadi, tentu aku akan sangat senang pergi ke kota ini. selama kami menjalani proses ‘pacaran’, sebelum aku bisa resmi memilikinya, aku ingin sesering mungkin bisa kesini; kalau perlu menetap disini. Ingin kulipat saja peta dunia: Jakarta-Semarang-Lamongan. Tidak usah ada kota lain jadi pemisah. Hahaha

Kembali tersenyum kecut sehingga harus kubasahi mulutku dengan kopi mocca yang sudah dingin agar terasa sedikit manis.

Tak bisa diingkari, aku masih memendam rasa cinta padanya. Tak peduli beberapa waktu lalu kalimat “kita harus mengakhiri hubungan ini” pernah merusak syaraf pendengaranku. Masa bodoh alasan katanya orang tua gadis ini kurang suka padaku. Semua alasan…. masuk akal, logis dan aku bisa mengerti. Tapi tahukah kawan, mengerti bukanlah identik dengan menerima!! Maksudku aku belum bisa menerima semua alasan yang diberikan! Percayalah jika kamu di posisi sepertiku, tak mudah untuk menerima kaputusan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s