Senja Pinggir Kota (Apeiron: 1)

“Alia.. sebaiknya aku melepasmu saja. aku bingung. Sepertinya aku terlalu lemah untuk menemani hidupmu. Aku seperti telah menjadi pecundang.”

“Mas, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku gak suka. kita bisa menghadapi ini bersama.”

Hening. Hanya sapuan angin sedikit terekam oleh mikrofon hanphone .

sejenak, pria yang kini sedang duduk di atas motor itu mengambil nafas panjang. Bibirnya mencoba untuk tersenyum, meski sesak masih bergemuruh menghimpit dadanya. 

Sementara di seberang, suara seorang wanita memangggil-manggil namanya, pikiran pria itu masih berdialog dengan waktu. Setelah hembusan nafas panjang itu, ia menutup pembicaraannya.

“Nanti aku hubungi lagi, Lov. Bye…”

Kembali hening…

Angin sore berhembus begitu hangat mengantar hari yang makin gelap. Suasana yang sangat diresapi oleh pria itu seolah ia ingin tenggelam bersama damai alam.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s