Double Happiness (Prolog)

Chapter 1 dari bagian pertama novel ngawur ‘Mahasiswa Abadi ?”

(beberapa hari sebelum wisuda kelulusan)

Sekelebat tadi berpapasan dengan kata-kata yang sangat lekat dengan pikiranku. Bahkan hampir semua detail kisah dan impianku ada dalam kata-kata itu. Penasaran, sejurus kuhentikan langkah kaki untuk mundur sedikit ke belakang. Dan…. memang benar!

“Oh my God! Is this real? Ini bukan mimpi?!!”

Mataku terbelalak senang. Aku tidak mengerti bagaimana mengungkapkan rasa surprised ini! Seperti adikku yang paling kecil ketika seorang yang tidak dikenalnya memberi sebuah boneka panda besar. Girang. Tidak tahu harus mengucap apa pada sang pemberi boneka, ia langsung menghambur masuk rumah menenteng si panda sambil berteriak-teriak memanggil mamanya.

Atau kalau digambarkan seperti dalam film -dan aku sendiri tidak tahu judulnya apa karena itu cuma ngawur-, aku seperti seorang John yang berteriak, meloncat-loncat di atas sofa dengan pop corn tumpah berhamburan dimana-mana. Seorang John yang sedang menang besar dari undian lottere !

Yeah !! saking gembiranya, tak sadar aku benar-benar meloncat di antara rak-rak itu. seperti jagung yang disangrai dalam adegan si John, beberapa buku juga benar-benar berhamburan ke lantai. Tak sengaja aku menyenggolnya hingga terjatuh.

Brakkkk!!

Serentak beberapa pasang mata langsung mengarah kepadaku, kaget dan heran. Pikiran mereka mungkin pula dipenuhi pertanyaan: “apa dia sedang gila?!

Malu? Oh jangan ditanya! sangat jelas!

Ketika kembali dari perasaan ‘mengawang‘ itu, seluruh otot tulangku seperti menjadi robot dengan sikap tubuh yang aneh. Mata berkedip-kedip menyadari orang-orang memperhatikanku. Aku bengong sambil mulutku tersenyum nyengir manahan malu hingga seorang laki-laki berseragam putih hitam sudah berdiri tepat di depanku. Tatapan matanya menyiratkan rasa heran kepadaku meski disertai tanda seru. Sebuah isyarat agar aku segera membereskan buku-buku yang terjatuh itu.

I..i..iiya, ma..af… mas. Gak sengaja,” kataku terbata-bata pada petugas itu. Pikiranku berharap-harap cemas, kalau saja dia tiba-tiba marah lalu mendepakku keluar.

Ah, lebay! itu Cuma di film guys! Tapi sungguh benar-benar memalukan. Bayangkan kamu sedang seperti diriku sekarang!!

Sekejap aku membereskan buku-buku yang berceceran di lantai, menaruhnya kembali di rak sekedarnya lalu sebisa mungkin pergi dari tempat memalukan tersebut. tak lupa aku memcomot satu buku dengan cover dominan warna putih itu dan langsung kubawa ke kasir.

Mahasiswa Abadi ?

Sebuah Novel Ngawur by Aksara.

*****

Di dalam busway, segera kubuka plastik pembungkusnya. Mataku kembali berbinar-binar seolah masih tak percaya. Terimakasih Tuhan! Tak putus hatiku bersyukur.

Aku sangat senang karena bisa menulis buku, apalagi tahu terbitnya persis seperti yang kutulis sendiri, yaitu sebelum wisuda.  Ajaib! Aku bangga! Ah, aku merasa terharu sendiri. Meski bukan seratus persen nyata, tapi banyak rangkaian perjalanan hidup dan mimpiku ter-jelentreh-kan disana. Sampai halte terakhir, kutuntaskan beberapa chapter.

“Pendidikan, cinta, dan perjuangan hidup! Aku ingat bagaimana menulismu dulu!”  :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s