Surat Untuk Tuhan (2)

Selamat malam Tuhan

Bagaimana kabarmu?

Ah, lupa. Aku harusnya tak menanyakan soal kabar mengenai dirimu. Engkau bukan seperti kami, ciptaanmu yang selalu berubah setiap waktu. Engkau maha suci dari perubahan.

Tuhan, beberapa hari yang lalu aku mengirim surat padamu. Apakah engkau sudah membacanya? Aku harap apa yang kulakukan tidak sia-sia.

Mungkin absurd, jika seorang manusia menulis surat untuk engkau. Untuk tuhan. Obrolan imajiner! Ke alamat mana itu di kirim sedang engkau tidak tinggal di tempat tertentu. Pun bagaimana cara mengirimnya sedang engkau di luar jangkauan fisik kami. 

Kemarin aku sempat berencana mengirim surat untukmu ke beberapa tempat. Masjid, gereja, sinagog, kuil, kelenteng, gunung, laut, kuburan… beberapa tempat pertama, aku ingin menaruh suratku di sana karena aku pikir tempat tersebut adalah rumahmu. Orang-orang banyak berkumpul di sana menyebut namamu, membuat pengakuan dosa, dan berdoa dengan segala macam keinginan mereka.

Sedang beberapa tempat terakhir, aku pikir di sana aku seolah sedang benar-benar menemuimu. Melalui langit yang terhampar luas, aku mengakui keagunganmu. Pada udara segar, aku menikmati hidup pemberianmu. Dengan segala rupa pepohonan dan rumput yang tumbuh aku mensyukuri nikmatmu. Mendengar hembus angin, kicau burung, debur ombak, seolah engkau meniupkan ruh kehidupanku kembali. Di tempat-tempat ini, aku mendapat kesadaranku engkau ada. Aku rasakan engkau sedang berada di sampingku. Begitu dekat.

Tapi rencana itu batal. Suratmu Cuma bisa kuposting di blog. Fiuh!

Engkau tahu aku jarang pergi ke tempat-tempat yang kami sebut sebagai ‘rumahmu’ itu. Malaikat pencatat amal mungkin juga sudah rutin mencatat kebiasaan burukku itu. Aku tidak enak hati jika sekonyong-konyong datang ke sana menitipkan surat untukmu lalu pergi lagi. Lagipula aku masih takut dibilang tidak waras oleh orang-orang disana. ‘surat untuk Tuhan’! huh!! aku tidak mau membayangkan jika suratku di baca oleh orang-orang yang sering berjubah, bersorban dan berteriak-teriak dengan namamu sambil membawa pentungan itu. Aku tidak mau membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap suratku. Pun penulis suratnya.

Dan untuk beberapa tempat lainnya, aku belum sempat pergi. Kuliah yang sedang dikejar target, skripsi yang tak-jadi-jadi, hafalan yang membuatku tertekan, belum juga urusan perut yang tak boleh ditinggalkan. Aku harus kerja untuk bisa dapat duit, bisa makan, untuk hidup. Tuhan, Jakarta kadang terasa sangat kejam!

Ohya, Tuhan, bagaimana ini?! Sudah berkali-kali aku melamar, mencari kerja yang halal -dan sesuai dengan kondisiku sekarang-, tapi berkali-kali itu pula aku ditolak. Malah hampir kena tipu. Banyak ‘oknum’ tidak bertanggung jawab, membuka loker, tapi ternyata malah minta duit dulu dengan dalih ini, itu…. ingin sekali saya tonjok mereka! Salahkah aku seandainya melakukannya??

Tuhan, Buka pintu rezeki kami seluasnya. Beri kami jalan, ketuk hati para tuan perusahaan yang kukirimi surat lamaran pekerjaan.🙂

Maaf, sepertinya aku mulai banyak meminta. Semoga bukan termasuk orang tak tahu syukur. Aku kadang merasa lelah dengan situasi ini. Aku ingin berubah. Aku tak ingin mimpi-mimpiku sekedar menjadi kembang tidur. Sendainya manusia tak memandang sesamanya dari sudut harta!

Tuhan, aku ingin sukses di dunia ini dan setelahnya. Aku ingin membantu bapak ibuku yang sudah terlalu lelah memperjuangkan anak-anaknya. Ingin melihat adik-adikku menikmati masa remajanya, mengenalkannya pada luas dunia, membuat mereka lebih baik dari kakaknya yang payah ini. Satu lagi, mendapatkan ‘dewi’ yang kemarin pernah kau turunkan di sampingku itu. Aku berharap suatu saat dia kembali dan kami direstui.

Tuhan, nanti aku kirim surat lagi. Aku tidak ingin berlama meratapi ‘takdir’ yang berjalan ini. Nanti kita obrolkan hal yang lain. Soal permohonanku, bantu tangan kecil kami! Bukankah sekarang bulan Ramadhan??! Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s