Surat Untuk Tuhan

Aku terjaga dari tidur. Terbangun dan tidak bisa lagi pejamkan mata. Ini masih lumayan, karena malah aku sering tidak bisa tidur sama sekali hingga fajar menyalami bumi. Sudah berapa lama seperti ini, aku lupa atau lebih tepatnya tidak tahu. Mungkin dua minggu atau sebulan atau malah lebih.
Soal kenapa seperti ini aku juga tidak tahu. Ah, sebenarnya aku tahu sebabnya, hanya saja masih bingung kenapa bisa seperti itu. Kenapa aku begitu terfokus pada sebab tersebut dan tidak bisa melepaskannya barang sejenak. Satu masalah yang sangat lama bahkan sejak kehadiranku di dunia ini, dan satu masalah baru yang menghantamku beberapa waktu yang lalu. Itu semua membuatku begitu shock. Aku sepertinya terlampau lelah dengan semuanya. Mungkin sekarang adalah kalkulasi. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku ingin menulis sepucuk surat untuk tuhan. 


Wahai Tuhan,
Terimakasih kau bangunkan aku sepagi ini. Aku ingin menggerutu tapi sekejap hilang ketika rembulan melintas di depanku. Rembulan yang sangat indah dan terlampau indah hingga malah membuat dadaku langsung sesak.

Terimakasih kau bangunkan aku sepagi ini. Saat rembulan itu runtuh menjadi batuan-batuan yang menghantam bumi pikiranku, darahku langsung terhenti. Nafasku tercekat, mulutku ingin meraung dan tanganku terkepal ingin merobohkan dinding-dinding kamar dari triplek ini. Tapi aku ingat, bahkan jika aku bakar seluruh rumah ini atau misalkan aku habisi nyawa semua orang yang membuatku menjadi seperti ini, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu tidak akan memadamkan api yang membakar jiwaku dan tidak akan pernah meredam apa yang aku rasakan.

Terimakasih kau bangunkan aku sepagi ini. Saat pagimu yang sejuk dan damai malah berubah menjadi neraka bagi diriku, setitik embun masih sempat mengusap lembut di mukaku, menerobos pori-pori, masuk ke dalam kepala mendinginkan akal lalu turun menyentuh relung hati untuk kemudian menyebar ke seluruh anggota tubuh ini.

Terimakasih untuk pagi ini, aku masih merasakan hidup. Masih bisa menggerakkan tanganku untuk merangkai kata-kata ini. Terimakasih aku masih diperkenankan curhat, bertanya, protes, berdebat, dan mengharap.

Tuhan….
Aku tahu dan yakin bahwa engkau maha melihat, maha mendengar, maha tahu segala yang tampak dan tersembunyi. Aku sadar dan yakin engkau maha segalanya termasuk apa yang ada dalam hati dan pikiranku saat menulis surat ini. Keyakinan ini tak akan pernah bisa terwakili dengan angka-angka sekian persen. Tidak! Milyaran angka tidak cukup menggambarkan hal itu.

Aku juga yakin bahwa engkau maha mengerti apa yang kumaksudkan dan maafmu melebihi luas lautan. Maka sebelumnya maafkanlah hambamu ini.

Tuhan….
Sepagi ini kau telah bangunkan aku untuk merasakan sesuatu yang sangat berat. Belum sempat melihat waktu, aku sudah seperti anak kecil yang tiba-tiba terpisah dari keluarga, kehilangan pelindung di antara desing peluru dan hantaman bom. Aku hilang pegangan, menangis, mematung ketakutan. Sendirian!

Mungkin para manusia masih bingung, tapi keyakinanku, engkau mengerti yang kumaksudkan.

Tuhan….
Aku tidak pernah membayangkan hidupku seperti ini. Tak pernah terpikirkan bahwah cerita hidupku seperti drama terkaan dalam script buatan manusia. Aku tidak bisa menangkap arti semua ini, dan aku belum bisa memahami scenario yang engkau inginkan. Tapi aku tidak ingin membicarakan ini sekarang. Biarlah lain waktu kupelajari lagi dan kita bisa saling berkirim surat membahasnya. Saat ini aku ingin meregangkan otot-otot pikiran yang sudah kram dan membengkak. Aku ingin melepas kepenatan dan mencari jawab atas masalahku ini. Aku ingin bertanya dan mungkin sedikit ‘protes’ soal itu!

Tuhan, aku mulai dari satu masalah yang baru kemarin membuatku gila.

Apa itu cinta? Apa engkau memberiku hak untuk itu?

Jujur, aku sungguh tidak tahu bagaimana engkau merespon pertanyaanku ini. Mungkin engkau menertawakanku karena pertanyaanku sangat menggelikan, benar-benar anak kecil idiot. Mungkin pula engkau malah iba dan dengan penuh pengertian memberiku nasehat, petunjuk, jawaban, dan solusi. Ah, aku benar-benar tidak tahu tentangmu. Mungkin Engkau sama sekali tidak bisa dibayangkan. Tidak bisa dianalogikan dengan segala yang ada di pikiran manusia. Laisa kamistlihi syaiun. Tapi aku sangat berharap kemungkinan kedua yang kau berikan untukku.

Tuhan….
Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, bisakah aku menanyakan dan mengetahui hal tersebut?
Engkau adalah sumber cinta dan engkau telah menaburkannya di seluruh kolong jagad ciptaanmu. Saat musim semi tiba, Engkau menumbuhkan cinta di setiap hati manusia untuk kemudia merawatnya hingga musim entah. Entah berakhir manis, entah sebaliknya diakhiri derita tangis.

Tuhan, dahulu aku tidak pernah merasakan apa yang aku rasa sekarang ini. Sebuah rasa cinta pada makhlukmu yang kau buat indah di setiap mata manusia. Kau mengenalkanku padanya lewat dunia entah, untuk kemudian kau hadirkan dia benar-benar di hadapanku. Aku terlena dan jatuh cinta. Suara lembut, wajah yang teduh, sikap seorang gadis modern yang manja, dewi langit yang agung, dan ibu anak-anak yang bijak. Ada satu keyakinan yang tidak kutemukan dari selain dirinya, bahwa dialah yang kau takdirkan untuk menemani hidup dan perjuanganku.

Setahun ini aku meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Rasa yang kau terbitkan tak mengenal redup. Tak ada musim lain selain musim semi. Anugerah ini benar-benar mengubah hidupku.

Kadang Aku mencoba mempertanyakan apa yang sedang kami jalani. Apa dia benar-benar untukku? Sanggupkah kubahagiakan bidadari yang kau turunkan ke bumi ini? Aku coba berkaca, mengukur diri, menimbang yang kumiliki, dan memastikan semuanya tak berakhir sia-sia. Kadang aku lelah dan ingin kusudahi, tapi disanalah kata-katanya meyakinkanku bahwa semuanya bisa dilewati. Tangannya menarikku untuk tetap berdiri. “Bee, Jangan pernah berkata seperti itu,” katanya. Dan semuanya bisa kuatasi. Aku semakin jatuh cinta pada mahlukmu ini. Aku terkunci dalam taman Eden dan tak ingin berpaling darinya. Ada azam untuk menjadikannya halal bagi diri ini. Tuhan, aku sangat berterimakasih atas apa yang telah kau gariskan.

Tapi aku tidak mengerti, musim semi sekonyong-konyong berganti panas. Tidak ada musim peralihan. Terik matahari yang menyengat, badai pasir yang hebat tiba-tiba turun menghantam taman edenku. Tanahnya yang subur mendadak menjadi padang pasir tandus. Bunga-bunganya kering, terbakar. Semua porak-poranda menyisakan diri ini sendiri di tengahnya. Tuhan, inikah cinta? Inikah takdir dari sang Mahacinta? Aku limbung tak percaya.

Sejenak aku sadarkan diri. Masih di sana, di tengah hamparan pasir tanpa air. Di bawah kolong langit yang membuat sakit. Sekelilingku tak berubah. Benar-benar nyata.

Aku compang-camping, menoleh kanan-kiri bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku berteriak mungkin ada kafilah lewat dan mau peduli. Aku berlari ke segala penjuru dan tak kutemukan batas dimana gurun ini bisa kutuju.
Ingatanku sedikit pulih. Aku tadi sedang berada di Eden hingga tiba-tiba, badai itu….

Tuhan….
Aku tidak bisa mengeja gemintang langitmu. Tapi kau bisa mengerti apa yang terbaik bagi diri ini. Aku setitik debu di jagad, akankah selalu terhisap pusaran badai? Aku buih di samudera, akankah selalu terombang-ambing kemana ombak menjelma?

Jika cinta yang kau tanamkan pada kami memang demikian, apakah sebenarnya engkau sedang mengajakku bermain? Atau mungkin engkau sedang ‘mempermainkan’ kami? Maafkan atas subjektifitas ini. Ampuni atas kelancanganku ini. Jika engkau ingin bermain, sungguh aku tak bisa memahami. Jika engkau berniat ‘mempermainkan’, sungguh aku tak berdaya. Dan sungguh mahlukmu ini ‘kecewa’.

Tuhan, Kau tahu aku berasal dari keluarga kecil, lahir dengan kemampuan yang kecil. Tangan-tangan kami tak menjangkau mimpi-mimpi besar. Kami sangat terbatas, tak cukup cerdas. Kami teramat miskin jauh harapan untuk bisa mengejar angin. Mungkin saja saat kecil aku tak pernah menanyakan kenapa kami seperti ini. Kenapa aku lahir di sana, saat itu. Kenapa tidak lahir di sini atau tempat lain, kenapa tidak kemarin, hari ini atau mungkin nanti saja. Tuhan, takdirmu telah memutuskan kami harus bahagia dengan semua yang kecil.

Di saat anak-anak lain dibelikan mainan oleh ayahnya, aku membuat mainanku sendiri dari tanah. Di saat yang lain bisa memakai seragam baru saat sekolah, aku harus bersyukur tidak telanjang dengan seragam bekas pemberian tetangga. Di saat yang lain bisa menghamburkan uang pemberian orangtua, aku harus ikhlas menyisakan uang jajanku untuk beberapa hari berikutnya.

Tuhan, aku pernah ingin seperti anak-anak itu. Tapi seorang aku yang masih kecil tak pernah memperpanjang masalah di pikirannya. Aku yang kecil tidak pernah mengerti apa arti kata ‘ingin’ dan ‘sabar’. Aku yang kecil sebegitu polos, tak punya iri dan sakit hati.

Tapi, aku yang dulu kecil sekarang sudah besar, dewasa, punya keinginan, punya ‘perasaan’, punya hati dan pikiran. Aku punya kesabaran dan tuntutan. Aku sekarang punya punya banyak pertanyaan!

Tuhan, kenapa aku miskin? Kenapa aku masih saja ‘kecil’? kenapa aku tak bisa menyentuh mimpi-mimpiku? Kenapa aku tak bisa seperti yang lain menikmati dunianya. Adakah kau membenciku, lalu menghukumku? Kenapa aku terpisah dari cinta?

Jika kemiskinan memang takdir darimu, aku sudah berteman dengannya sejak lama. Aku sudah terbiasa bersenda gurau dengannya. Tapi soal cinta itu… Arrrrgggghhh! Aku sungguh tak kuasa. Kau benar-benar mengerti kelemahanku! Kau benar-benar tahu bagaimana membuatku lumpuh!

Aku putus asa! Adakah manusia kecewa pada takdir? padamu, Tuhan?! Apa kau marah pada mereka?!!

Tuhan, aku mencoba menerima apa yang terjadi sekarang ini. Tapi aku masih belum kalah. Aku menganggapnya sebagai ujian. Tenagaku masih sedikit tersisa dan aku belum menyerah! Aku akan berusaha mendapatkan cintaku kembali.

Tuhan, berilah jawab! Aku hanya manusia tak mengerti hakekat. Berilah isyarat agar kutahu yang harus kuperbuat! Janganlah engkau diam! Adakah engkau sedang menertawai mahluk kerdilmu ini?

Tidak! Janganlah kau melakukannya, Tuhan! Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya. Aku tidak bisa mengerti apa maksud semua ini. Inikah yang disebut takdir?!

Tuhan, aku ingin bertanya, apakah takdirku selalu berakhir ‘buruk’? mengenaskan?! Apa kau memang ciptakan aku untuk menjalani takdir seperti itu, selamanya? Apa tiada hak cinta bagiku yang tak punya? TIDAKKAH AKU BISA MENGUBAHNYA barang sejengkalpun?!! Tidakkah aku bisa memilih?! Kejamnya!

Tuhan, apa kau sedemikian otoriter?!!!!

Sudahlah, cukup ini saja. Subuhmu juga sudah menunggu. Nanti aku tulis surat yang lain, pula dengan tema yang lain. Saat ini makhlukmu ini sudah sekarat. Ia sangat mengharap jawab!!

Saturday, 14 July 2012

One thought on “Surat Untuk Tuhan

  1. Pingback: DPR: Pajak Diganti Zakat Kurang Bijak | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s