Untuk Sang Kekasih (1)

Diceritakan, di suatu negeri, terdapat satu kota yang sangat indah. Terletak di ujung, berbatasan dengan laut dan hampir dikelilingi oleh bukit dengan pemandangan yang sangat sempurna, seolah itu adalah Eden.

Dari negeri seberang, seorang pemuda datang mengembara ke negeri tersebut. Ia bernama Aksa, pemuda dari keluarga biasa yang disebut sedang menuntut ilmu sambil mengadu nasibnya disana.  Aksa tinggal di kota itu, di daerah yang terletak di bawah perbukitan dimana ia bisa naik ke atas untuk melihat matahari yang sedang muncul atau tenggelam. Ia sangat menyukai kota ‘Eden’ ini.

Suatu hari saat Aksa sedang menikmati sore yang indah di bukit, ia bertemu dengan seorang gadis. Namanya kahlilah, salah satu putri dari tuan kota. Ia baru beberapa hari kembali ke kota ini setelah lama di negeri asing. Mereka berkenalan di sana dan akhirnya menjadi teman yang akrab. Keduanya merasa nyaman satu sama lain.

Hari berganti hari, dan tahun berganti tahun ternyata mereka merasakan sesuatu yang lain dalam diri mereka. Aksa merasa ada sesuatu yang aneh sedikit demi sedikit mengusik pikiran dan hatinya. Perasaan itu kadang bercampur aduk dalam satu waktu. Kadang senang kadang gelisah.

Setelah cukup lama mengenal Kahlilah, Aksa merasakan bahwa hidupnya sengat berbeda dari sebelumnya. Hari-harinya selalu dipenuhi kebahagiaan saat bersama gadis itu. Namun, Jika sehari tidak mendapat kabar darinya, Aksa merasa bahwa kebahagiaan tersebut berkurang dan hambar. Hidupnya selalu dipenuhi gairah saat mereka berdua bersama dan seolah tidak ingin dipisah satu sama lain.

Ia lalu menceritakan tentang itu kepada gadis, mencari-cari jawaban apa yang sebenarnya sedang menimpanya. Ternyata gadis pun punya pertanyaan yang sama.

“Lilah, Aku tidak bisa menahan apa yang sedang aku rasakan sekarang ini. Aku Cuma ingin memberitahumu tentang kebenaran yang ada dalam hatiku.” Aksa memulai pembicarannya sambil memandang langit di barat sana.

“Apa itu yang ingin kamu katakan?”

“Aku tidak ingin memintamu untuk memilih iya atau tidak. Aku Cuma ingin memberitahumu bahwa hidupku telah berubah satelah mengenalmu. Kau lihat pantai di bawah sana?! Seperti itulah hidup yang kurasa saat ini. Ombak yang berkejaran, karang yang kuat, dan pasir dengan buih-buih air yang sangat indah. Seperti itu hari-hariku saat ini jika bersamamu. Tapi ia juga selalu dipenuhi kegelisahan. Hari-hariku hampa saat tanpamu. Aku merasa tidak ingin jauh darimu. Aku ingin kamu selalu bersamaku.”

“Dengarlah. Aksa… apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya. Tahukah kamu, aku sudah cukup lama menyimpan ini semua. Saat berada di dekatmu, tidak ada kata lain selain bahagia. Aku juga merasa begitu gelisah jika sehari saja tanpa tahu kabar darimu. Seperti sekarang ini, hidupku kembali saat berada di sampingmu.”

“Mungkin, inilah cinta. Aku ingin selalu bersamamu. Tak usah kamu tanya apa iya atau tidak. Aku ingin menjadi kekasihmu yang akan selalu menemanimu. Kamu bisa melihat kebenaran dimataku.”

Mereka berdua tersenyum. Inilah takdir.

Matahari meninggalkan semburat merah di ujung samudra di sana. Senja begitu indah saat semesta merayakan cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s