Inikah cinta?

 

Kemarin aku mengenalmu di dunia yang tanganku tak bisa menjamah. Dunia dimana semua hal seolah nyata padahal itu tiada. Bagai bangun dari mimpi, memang tidak ada yang berubah, hari-hari tetap seperti sebelumnya.

Waktu berlalu, aku membuka mata. Sinar mentari terasa hangat dari balik ranting-ranting hijau. tapi dadaku terasa sesak, seperti ada berkwintal batu masuk mendesak. Jantungku tak seperti biasanya, ada degup asing membuatku merasa terasing. Kudekatkan telingaku mendengar, kuarahkan tanganku meraba apa yang terjadi. Suaranya berbeda, detaknya tak sama.

“Apa ini…?” kucoba mencari jawabnya. Hari ini aku kembali membuka mata. Mentari semakin hangat menyapa. Terasa sangat indah saat beberapa burung kecil menyanyikan syukur akan kehidupan. Melompat-lompat di antara ranting pohon yang tenang.  Embun masih setia menemani rumput-rumput yang sedikit tak terawat.

Tapi dadaku semakin sesak. Berton batu serasa semakin merangsak. Jantungku-pun semakin tak karuan. Degupnya memaksakku untuk secepatnya mendapat jawaban. Detaknya seolah hampir membuat dadaku akan meledak. Kudekatkan kembali telingaku, kuarahkan lagi tanganku,  menyentuhnya. Benar-benar menyentuhnya.

“Ini jantung siapa? Kenapa ada dua?!”

Jantung itu terhenti degupnya. Keduanya. Entah berapa detik. Tapi dunia mendadak berubah. Berupa cahaya bertaburan dimana-mana. Suara-suara bagai melantunkan puisi diiringi irama betlovehen. Segala yang bergerak seolah sedang melakukan slow motion melawan hukum alam. Waktu terhenti. Semua tampak indah dan nyata. Inikah cinta?

“Benar!” jawab jantung asing itu. “dan mulai sekarang aku bagian dari hidupmu,” lanjutnya.

“Tapi jantung siapa, kamu?” aku heran.

“Aku milik gadis dari negeri berantah itu. Dia menitipkan salam bahwa ia menunggumu. Dia juga merasakan apa yang kamu sedang rasakan. Temuilah dia!”.

“Tapi aku takut jatuh cinta. Aku khawatir… Aku khawatir akan mengecewakannya.”

“Jangan bicara seperti itu. Ia tidak mau mendengarmu menyerah oleh ketakutanmu sendiri. Temui saja dan jangan buat ia kecewa!”

Aku menurut karena mulai mengerti. Batu-batu yang menyesakkan itu ternyata rasa khawatir, degup jantung yang bergemuruh ternyata rindu, dan semua rasa yang membingungkan itu bernama cinta.

Dari tanah yang kupijak, kutulis sebait puisi untuk gadis si pemilik jantung hati. Besok akan aku temui.

Kemarin kita berjumpa

Melalui takdir-Nya  di sebuah lorong ruang rindu

Hari ini aku membuka mata

Dan kudapati kau telah mengisi hatiku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s