Sang Centhi Pun Berkata

 Kemarin malam aku sempatkan lagi untuk sedikit membaca sebuah novel, Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin, karya Sunardian Wirodono (2009).  Sebuah novel yang sudah cukup lama, tapi tidak apalah kalaupun aku baru menikmatinya sekarang-sekarang. Sejak membelinya, aku belum pernah membacanya sampai habis. Bahkan, dalam membacanya pun melompat-lompat tidak karuan. Bab yang satu belum habis sudah pindah ke bab berikutnya. Kadang juga sudah berada di halaman sekian, lalu balik lagi ke halaman sebelumnya. Jadi, entah kapan akan aku akan menyelesaikan membacanya, aku tidak tahu. Its OK. 

Sekilas tentang novel ini, seperti kata penulisnya, diambil dari Suluk Tambangraras atau lebih dikenal dengan Serat Centhini jilid V, VI, dan VII yang telah dilatinkan tulisannya oleh Yayasan Centhini Indonesia. Serat ini ditulis tahun 1815 oleh tiga pujangga keraton Surakarta atas gagasan Sri Sultan Pakubuwana V, yaitu: Ki Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabehi Sastradipura. Serat ini ditulis dengan gaya bahasa sastra secara lugas dan terbuka sebagai sebuah ensiklopedi jawa yang tentu saja memuat berbagai macam hal dan kehidupan orang jawa. Dan buku yang saya baca ini merupakan versi novel dari ketiga bagian serat agung tersebut yang mengisahkan tentang 40 malam kehidupan Syekh Amongraga dan Tambangraras beserta Centhini (centhi= pembantu) dalam menjalani kehidupan rumah tangga mereka.

Well, kali ini setelah sebulanan lebih aku tidak meliriknya karena dipinjam oleh teman, aku tertarik untuk menyapanya lagi. Aku membuka bagian paling belakang yang merupakan ending dari novel tersebut. Aku disodori sebuah syair Jawa Kinanthi yang menjadi penutup dari kisah yang ada dalam novel ini. dengan penutup sebuah syair kinanthi, maka otakku sudah berpikir bahwa alur novel ini tentunya sad ending. Setelah membaca terjemahan dari syair tersebut aku makin tergelitik untuk membalik lagi beberapa halaman sebelumnya tepat di bab Malam ke-39. Dari sini aku menemukan bahwa novel ini memang sangat hebat. Sarat makna. Setelah membaca beberapa paragraf, timbul pertanyaan di otakku, apa mungkin sebuah serat yang ditulis pada abad ke-18 itu berbicara tentang wacana pembebasan perempuan (emansipasi wanita)?!

Entah aku tidak tahu bagaimana isi Serat Centhini itu yang sebenarnya. Yang kubaca saat ini adalah sebuah novel yang diakui diambil berdasarkan serat tersebut –tentunya sesuai penafsiran penulis novelnya. Dari dua bab terakhir itu aku mendapatkan wacana emansipasi yang luar biasa. Sebuah kritik terhadap perilaku laki-laki yang seenaknya saja terhadap perempuan. Sebuah pembongkaran ketidak adilan melalui pertanyaan-pertanyaan psikologis aneh yang sepertinya kurang atau bahkan tidak mendapatkan tempat di otak banyak laki-laki. Hmm, sebuah sindiran buatku juga, kayaknya.

Kenapa laki-laki maunya ber-poligami? Kenapa tidak memikirkan perasaan yang dipoligami? Kenapa suami seenaknya saja pergi setelah mendapatkan semua yang dipunyai isterinya? Apa satu tidak cukup? Kenapa, kenapa, dan kenapa, itulah yang menjadi rangkaian pertanyaan dalam bab-bab terakhir novel tersebut.

Dalam novel tersebut memang tidak ditulis jawaban-jawaban bagi berbagai pertanyaan di atas sebagaimana tidak ada ayat-ayat agama tentang poligami untuk menentukan titik polemiknya. Tapi, lebih pada sentuhan psikologis melalui dialog-dialog tokoh terutama celotehan dari sang Centhini. Dan ini memang lebih asyik dari pada harus berebutan tafsir dari beberapa ayat Tuhan. Aku pun berpikir kenapa kalau bicara poligami sepertinya secara otomatis harus meminjam ayat-ayat Tuhan. Kenapa aku tidak mencoba berpikir praktis dan sederhana tentang perasaan yang dipoligami untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang tak ada habisnya ini?!

Ya, mungkin karena masalah poligami telah ada dalam nash-nash agama sekaligus ketetapan hukumnya, maka otomatis orang akan mencari tempat pembenaran paling mujarap bagi masalah ini. dan kebenaran mana lagi yang paling tinggi dan diakui mutlak selain kebenaran agama?!

Agama (terutama Islam dalam keyakinanku) memang menurusi segala hal. Tidak hanya masalah hubungan antara makhluk dengan Penciptanya saja melainkan juga dengan sesama makhluk, termasuk masalah poligami. Namun, menurutku agama ini luwes, tidak kaku. Ia berjalan seiring waktu dan tempat. Banyak hokum-hukum partikularnya yang tidak harus dilaksanakan secara tekstual. Di sana ada banyak pilihan agar tidak terjadi bentrok dengan kenyataan hidup. Seperti itu pula hukum poligami, menurutku. Sekalipun di sana ada nash shorih (jelas) yang memperbolehkan poligami, namun tidak boleh mentang-mentang menggunakannya untuk membenarkan semua poligami. Apalagi sekarang seolah orang yang berpoligami ternyata hanya untuk menguber keperawanan alias hanya mengumbar nafsu.

Ketika aku masih bingung dengan banyaknya alasan untuk memperbolehkan poligami terutama alasan bahwa perempuan memang harus mengabdi dan tunduk pada suami, maka aku seolah menemukan jawabannya dalam pertanyaan sang Centhi:
“Terus, suami mengabdi pada siapa? Pada isterinya? Pada dirinya? Atau, pada perempuan yang lain lagi?”

Dan bagaimana pandangan anda, tentu setiap otak punya pikiran masing-masing. Hehehe…

* sumber gambar: google

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s