Mari Menari

menari

“Hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang kepada tubuh.
Tubuhku menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman. Dan kelak ajal. Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang Sublim. Libidinal. Labirin.” (Ayu Utami, Saman)

“Aku ingin seperti daun itu/menarikan tarian yang paling indah atau menyanyikan sebuah lagu paling merdu/Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup.” (Subagio Sastrowardoyo)

“Mari menari ! Mari beria ! Mari berlupa !” (Chairil Anwar)

Sumber:

*kutipan diambil fb-nya kang Sahal, sedang foto dari Tempo.

Cinta dan Tiga Kota (bag. III)

Sudah lewat pukul enam pagi, tapi udara Kota Semarang belum kuhirup. Kereta telat. Beberapa orang bergantian ke toilet. Sebagian masih ada yang tertidu dii kursi dan di kolongnya. Ibu-ibu di depanku sudah bangun sejak embun masih memantulkan merah mentari. Kami membiarkan waktu berlalu dengan banyak diam. Hanya sekali-kali bertanya atau membuat obrolan pendek. Salah satu ibu yang sedang memperbaiki make up-nya tampak ngegerundel soal kereta yang molor jadwal tibanya.

bisanya jam segini udah mau nyampe stasiun. Lah ini Semarang saja belum masuk! Emboh kie!!

Iya. Ini keretanya telat banget. Berhentinya kelamaan sih di kota anu…. !” sambung ibu satunya.

Sementara si Mas gaul hanya diam melihat ke luar jendela.

Pecel, buk.. mas, pecele mas. Masih anget loh.” Sela ibu-ibu menjajakan dagangannya.

Aku merasa perutku tergoda mendengar kata pecel. Tapi kutahan dan kubujuk untuk menunda sarapan sampai tiba di tujuan. Kupikir, sekalian nanti sarapan sama ‘mantan’. Hemmm…. mantan lagi, mantan lagi!

Continue reading

Cinta dan Tiga Kota (Bag. II)

Ah, Semarang! Kota penuh kenangan meski baru sekali aku kesana. Sebelumnya sempat ingin kubatalkan pulang jika harus transit di kota berawalan S ini. Tapi aku tidak punya waktu lagi untuk mengundur kepulanganku. Jadwal kerja sudah terlanjur kuatur sedemikian rupa. Salah satu kerabat yang sebaya denganku akan menikah. Aku juga sangat kangen rumah; ibu, bapak, adik-adikku. Rinduku sudah tumpah ruah.

Semaraaaaang, selamat pagi Sayang!” pesan singkat yang dulu sering kukirim kepada seseorang di sana saat sinar matahari mulai merambah bagian bumi ini.

Ahaaaa ! itu dia alasannya!! Kamu mengerti kan?! CINTA !

Continue reading

Cinta dan Tiga Kota (Bag. I)

GREEGGGHHHHHHH !! suara rangkaian gerbong bergesekan saat pertama kali kereta mulai bergerak. Segera, perasaan lega berhamburan keluar dari pori-pori kulit.

Kupikir aku akan benar-benar matang dalam beberapa menit lagi. Meskipun sekarang malam hari, tapi sungguh gerbong kereta ini telah berhasil membuat para penumpangnya seperti berada di dalam panci rebus. Sumuk! Panasssss !! Setelah seperempatan jam menunggu peluit petugas, kereta ini akhirnya diberangkatkan pukul setengah sepuluh malam. Tiang-tiang bangunan Stasiun Senen seolah mulai bergerak ke belakang. Bismillah semoga lancar dan selamat sampai tujuan: Semarang!

Sebotol minuman pulpy kuambil dari saku luar handbag. Aku membawa dua tas. Satu ransel besar berisi banyak barang, termasuk oleh-oleh untuk adik kecilku. Yang kedua ya handbag itu tadi, isinya beberapa potong pakaian, beberapa snack dan sebuah kotak kecil, kado ulang tahun untuk seseorang di kota yang akan menjadi transitku sebelum ke Lamongan.

Continue reading